Doa; senjata kaum beriman
Doa;senjata kaum beriman
Oleh: Darwana Dewanda[1]
|
|
Berdoa adalah suatu ibadah yang hanya boleh kita tujukan pada Alloh semata. Karena jika kita tujukan pada selain Alloh maka kita telah terjatuh pada kesyirikan. Ianya juga sedekat-dekat hubungan interaksi antara hamba dengan sang khalik. Semoga tulisan alfaqir ini memberi sedikit pencerahan bagi segenap pembaca, Aamiin ya mujibassailin.
DALIL TENTANG ANJURAN BERDOA:
1. Al- Qur’an
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ (186) } [البقرة: 186]
“dan apabila hambaku bertanya kepadamu(Muhammad) tentang Aku, maka( jawablah), bahwasanya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku,maka hendaklah mereka itu memenuhi(segala perintahku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.”
2. Hadist
Nabi -صلى الله عليه وسلم- bersabda didalam hadisnya yang mulia:
الدعاء سلاح المؤمن
“doa adalah senjatanya orang mukmin”
3. Ungkapan Salaf
Berkata Ibnul qoyyim(W 751 H)- rohimahullahu ta’ala-:
الدعاء: فإنه من أقوى الأسباب في دفع المكروه، وحصول المطلوب
“ sesungguhnya do’a adalah sebab terkuat untuk menolak bala, dan sebab terbesar untuk menggapai sesuatu yang diharapkan”
Setelah kita faham perintah dalil anjuran berdoa mari, kita belajar adab atau etika berdoa. Yang kami ringkas dalam beberapa point:
1. Mengikhlaskan niat hanya ditujukan kepada Alloh.
2. Hendaknya memulai dan menutup do’a dengan pujian lan sanjungan kepada Allah- azza wa jalla- diiringi sholawat kepada Nabi صلى الله عليه وسلم.
3. Yakin akan diijabahnya doa.
4. Berwudhu sebelum berdoa-jika memungkinkan-.
5. Mengangkat tangan ketika berdoa.
6. Mengakui segala dosa yang telah diperbuat dan meminta ampunan, serta mengakui segala
nikmat yang telah Alloh berikan dan bersyukur atas segala limpahan nikmatnya.
7. Mengahadirkan hati ketika berdoa.
8. Hendaknya tempat yang akan digunakan suci dan bersih.
SEBAB DITOLAKNYA DOA
Termasuk berbagai sebab tidak dikabulkan doa ialah:
Tergesa-gesa agar doa kita segera dikabulkan, berbuat dosa, memutus tali silaturrahim, serta mengenakan dan memakan hal yang haram.
Sebagaimana sabda Nabi : صلى الله عليه وسلم
لاَ يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ، مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ، أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ، مَا لَمْ يَسْتَعْجِلْ قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا الاِسْتِعْجَالُ؟ قَالَ: يَقُولُ: قَدْ دَعَوْتُ وَقَدْ دَعَوْتُ، فَلَمْ أَرَ يَسْتَجِيبُ لِي، فَيَسْتَحْسِرُ عِنْدَ ذَلِكَ وَيَدَعُ الدُّعَاء
“doa seorang hamba akan senantiasa dikabulkan, selama dia berdoa bukan untuk keburukan atau memutus tali silaturahim dan selama dia tidak tergesa-gesa dalam berdoa. Kemudian seseorang bertanya,
‘ya Rasulallah, apa yang dimaksud tergesa-gesa dalam berdoa?’. Kemudian Rasulallah menjawab, yaitu seseorang yang berkata,’ sungguh aku telah berdoa dan berdoa, namun tak juga aku melihat doaku dikabulkan.’ Lalu dia merasa jenuh dan meninggalkan doa tersebut’’
Di dalam hadis yang lain disebutkan:
يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ، يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟
“seseorang menengadahkan tanganya ke langit seraya berdoa,’ ya tuhanku, ya tuhanku.’ sedangkan makananya haram, minumany haram, pakaianya haram, dan dia dikenyangkan dari yang haram, bagaimana mungkin doanya bisa terkabul,”
Yang harus kita fahami, bahwa hakikatnya doa seorang muslim yang mukhlis dan bertakwa tidak ditolak oleh Allah kecuali digantikan dengan hal yang lebih baik, sebagaimana perkataan ibnul jauzi(W 597 H)- rohimahullahu rahmatan wâsi’ah-:
“ ketahuilah, bahwasanya doa seorang mukmin tidak tertolak hanya saja, bisa jadi lebih baik baginya di akhirkan ijabah doanya, atau digantikan dengan suatu hal yang lebih baik -cepat maupun lambat-, maka selayaknya bagi seorang yang beriman tidak meninggalkan memohon(berdoa) kepada tuhanya."[2]
WAKTU-WAKTU DIKABULKAN DOA
1. Sepertiga malam terakhir.Rasulullah bersabda:
يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي، فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ
“ Rabb kita turun kelangit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Allah berfirman, ‘ Barangsiapa yang berdoa pada-Ku, niscaya Aku kabulkan.Barangsiapa yang meminta kepada-Ku niscaya aku penuhi, dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni.”
2. Ketika sujud.أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ، وَهُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ
“keadaan yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika ia sedang sujud, maka perbanyaklah pada saat itu”
3. Waktu antara azan dan iqomah.
4. Malam lailatul qadar.[3]
Maka muslim yang cerdas adalah muslim yang mendawamkan do’a kepada tuhanya semata. dengannya menunjukan ketaatan, rasa harap, dan lemah kita dihadapan sang pencipta.
Referensi:
- Al- Qur’an al-Karim.
- Syarh hisn almuslim min adzkâril kitâb wa ssunah; sa’id ali alqohtâni.
- Adda’ waddawa’ ; ibnul qoyyim
- Syarh arba’in annawawiyah; assyeikh utsaimin
[1] Penulis adalah Mahasiswa Tingkat 2, al- Azhar University.
[2] Fathul bâri(114/11)
- [3] Untuk lebih lengkap silahkan buka kitab Syarh hisn almuslim min adzkâril kitâb wa ssunah hal.50 (cet. Darul atsâr, Kairo).

Komentar
Posting Komentar