Menjaga Lisan?

 

Menjaga lisan?

Oleh: Darwana Dewanda[1]

 


K

ita sebagai manusia adalah makhluk sosial; individu yang harus bersosialiasi satu sama lain. Kita tidak bisa memungkiri dalam setiap pergaulan terkadang gesekan antara satu sama lain cenderung acapkali terjadi. Sehingga tanpa sadar luapan amarah muncul disebabkan ucapan lawan bicara kita yang kurang sopan sehingga membuat kita tersinggung.

Lalu bagaimana Islam mengajari umatnya untuk menjaga lisan?

Mari kita belajar hal tersebut, semoga tulisan al faqir bermanfaat untuk kita semua, Aamiin ya mujibassa’ilin.

A.    ANJURAN MENJAGA LISAN.

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda di dalam hadisnya yang mulia:

"من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت[2]"

“Barang siapa yang beriman kepada Alloh dan  hari akhir(red;kiamat) hendaknya berkata/berucap yang baik atau hendaknya diam “

Ibnu Daqiq al-‘idrohimahullah- ketika menjelaskan kalimat من كان يؤمن : ‘’yaitu  barangsiapa yang beriman dengan keimanan yang sempurna, yang menyelamatkanya dari adzab Alloh, yang menghantarkannya kepada ridha-Nya"

Imam an-Nawawi –rohimahullah-(wafat 676 H) ketika mensyarah hadist ini menukil perkataan Imam as-Syafi’i rohimahullah-(wafat 204 H) tentang makna hadis ini:

“Apabila seseorang hendak berbicara maka hendaknya dia berfikir terlebih dahulu sebelum dia berucap, maka apabila nampak baginya tidak ada  mudharat didalam perkataanya hendaknya  berbicara, namun apabila nampak baginya di dalam perkataanya sebuah mudharat atau ragu(red;antara perkataan baik atau buruk), hendaknya dia tak berucap”

Dari penjelasan yang disampaikankan oleh Imam as-Syafi’i- rohimahullah- kita dapat menarik kesimpulan bahwa lisan adalah alat untuk berbicara yang harus kita jaga sehingga tidak melukai orang lain.

Bukankah menjaga lisan kita dari berucap yang buruk atau kotor kita akan mendapat ganjaran, sebaliknya jika kita tak menjaga lisan kita dari hal-hal tersebut maka kita pula akan mendapat balasan yang setimpal?

ما يلفظ من قول إلا لديه رقيب عتيد [ق: 18]

artinya: tiada satu ucapan pun yang di ucapkanya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir" QS. Qaaf: 18.

Ibnu katsir- rahimahullah- menjelaskan ayat ini:


'' Maksud dari “Tiada Ucapan pun” adalah dari anak manusia, maksud dari “yang diucapkannya” adalah yang dibicarakannya dengan sebuah pembicaraan, maksud dari “Melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” adalah melainkan ada yang mengawasinya selalu untuk itu, ia menulisnya dan tidak meninggalkan satu kalimat serta satu gerakan pun, sebagaiman Firman Allah Ta’ala: “Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu),” “yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu),” “Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” QS. Al Infithar: 10-12''

 


Ada ucapan salaf yang mengatakan:

لو كنتم تشترون الكاغد للحفظة لسكتم عن كثير من الكلام

Seandainya kalian yang membeli kertas untuk para malaikat  mencatat  amal-amal kalian, maka kalian pasti akan banyak diam sedikit bicara”.

  Maksudnya, kita akan banyak diam sedikit bicara karena kita tahu amal keburukan yang banyak tercatat oleh malaikat salah satunya karena perbuatan lisan kita yang tidak keluar pada tempatnya (wallohu a’lam).

Lalu sebagian ulama ada yang berpendapat makna hadis ini adalah:

“Apabila seseorang hendak berbicara, maka apabila apa yang akan dia katakan itu dipandang ada kebaikan dan akan diganjar atas perkataanya maka berbicalah. Kalau tidak ada kebaikan didalam nya hendaknya menahan dari berbicara, mau perkataanya nampak jatuh pada hal makruh, mubah, ataupun haram, maka terhadap perkataan yang mubah diperintahkan  untuk meninggalkanya dan dianjurkan untuk menahan diri dari berbicara, karena dikhawatirkan dari perkataan yang mubah itu menjurus pada perkataan yang haram maupun makruh”

 

B.    MAKNA ’’ BERKATA YANG BAIK’’ ?

Perkataan yang baik adalah segala ucapan yang mencakup segala hal kebaikan ; berkata dengan sesama manusia   dengan sopan santun, dll.

 berkata yang baik lebih baik daripada diam, dan diam lebih baik daripada berkata yang buruk.

سلامة الإنسان في حفظ اللسان

“Selamat nya manusia ialah ketika menjaga lisan”

Di risalah yang singkat ini ingin saya tutup dengan hadits Nabi صلى الله عليه وسلم :

 

المسلم من سلم المسلمون من يده ولسانه

Seorang muslim itu yang muslim lainya selamat dari  gangguan tangan dan lisanya”

Semoga tulisan al faqir bermanfaat, jika benar datangnya dari Alloh-azza wa jalla- jika salah maka datangnya dari alfaqir sendiri dan dari syaithan. Wallohu A’lam bis Showâb.

Kairo, Rabu, 13 Agustus 2020.

 

 

 


 

 

 

 

 



[1] Penulis adalah mahasiswa al- Azhar University- Kairo jurusan syari’ah islamiyah tk. 2.

[2] Lihat: hadist arba’in no.15

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Doa; senjata kaum beriman

Hidangan Dari Tuhan